Minggu, 23 Agustus 2026
Jumat, 13 Oktober 2023
Jum'at, 13 Oktober 2023
SD Dian Andalas menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh kegembiraan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh kepala sekolah SD dan para Majelis Guru serta seluruh siswa-siswi.
Penceramah utama, Ustadz Rico Eka Putra , memberikan tausiah yang menginspirasi. Dalam ceramahnya, ia mengajak peserta untuk meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dan meningkatkan kecintaan terhadap Rasulullah dengan membaca Al Qur'an serta melantunkan shalawat kapan pun dan di mana pun berada. Ia mengajak semua untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai tolak ukur cinta kepada Rasulullah dan belajar dari alhlak Rasulullah
Acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an dan persembahan istimewa dari siswa-siswi SD Dian Andalas. Kepala Sekolah, Ibu Ernawati, S.Pd menyampaikan terima kasih kepada majlis guru dan seluruh siswa atas antusiasme mereka dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Minggu, 26 Maret 2023
Wasiatku
Aku punya sebuah pesan
Jika suatu saat nanti
Ajalku telah tiba
dan tubuhku telah terbujur kaku
dibaringkan ke arah utara
Tolong ingat pesanku ini...
Jika dia datang melayat
Tidak usah dibiarkan lewat
Apalagi ingin menyentuh tubuhku
Sampaikan saja pesanku, luka hatiku ini
Ku bawa sampai akhir hayatku
Apakah perbuatan salahku?
Sehingga ingin hatinya
Membuang aku dalam rasa berharap
Segala perbuatan baikku lenyap dalam ingatannya
Hanya keburukanku yang dia ingat
~A
Sabtu, 26 Juni 2021
A.
Deskripsi Program Aksi Nyata
SD Plus Lillah merupakan sekolah swasta yang berada
di Kota Padang, sekolah ini terletak di Kecamatan Koto Tangah. Sekolah
merupakan sekolah umum yang terintegrasi dengan pendidikan secara islami. Visi
SD Plus Lillah adalah mewujudkan sumber daya manusia yang cerdas, religius,
berkarakter dan berbudaya. Adapun beberapa misi yang dilakukan SD Plus Lillah
untuk mencapai hal tersebut adalah
: mengembangkan kreatifitas peserta
didik dengan menggali semua potensi, seperti minat dan bakat peserta didik.
Selanjutnya, menumbuh kembangkan potensi
potensi diri siswa untuk menjaga dan
mengolah lingkungan melalui kegiatan ektrakulikuler, olahraga, kesenia dan
pengembangan diri. Selanjutnya, Kesibukan orang tua yang bekerja membuat siswa
kami mendapat kurang perhatian dari orang tua. Karena sekolah ini menerapkan
sekolah fullday jadi setiap hari siswa masuk sekolah pukul 07.00 WIB pulang
pada pukul 16.00 WIB ( Situasi Tanpa Pandemi). Beberapa siswa juga terkadang
sering mengeluh ingin berprestasi dalam kegiatan ekskul tetapi mengalami
permaslaahan waktu untuk latihan. Beberapa penjelasan yang dikemukakan diatas
dapat dikemukakan bahwa sekolah ingin meningkatkan potensi setiap siswa agar
dapat berprestasi dalam kegiatan ekstrakulikuler dengan keterbatasan perhatian
orang tua dan waktu untuk membimbing siswa. Maka dibuatlah sebuah Aksi Nyata
yang sudah dilakukan beberapa waktu terakhir dan dimasa selanjutnya yaitu
perencanaan program Sekolah yang berdampak pada siswa “Ekskul Merdeka Belajar
Abad 21”.
Hasil dari kegiatan aksi nyata yang dilakukan adalah minat dan bakat siswa lebih tersalurkan. Banyak ekskul yang dapat dipilih sesuai kemampuan minat dan bakat siswa sehingga dalam pelaksanaannya siswa lebih bertanggung jawab. Siswa dapat mengetahui teori maupun praktik secara mandiri karena ekskul sesuai dengan keinginan mereka. Prestasi yang dicapai dalam kegiatan pun sangat baik sekali dan berubah secara signifikan. Selain itu, dari permintaan siswa pada assessment minat dan bakat maka lahirlah ekskul baru yaitu Kids Start Up Digital. Hal ini karena banyaknya siswa yang ingin mengembangkan kompetensi dibidang digital mulai dari hobi menulis di blogger, membuat website serta coding atau pemogrmaman.
Awalnya SD Plus Lillah sudah memiliki beberapa
kegiatan ekstrakulikuler yang telah dilakukan, tetapi dalam pelaksanaannya
masih sering terjadi beberapa tantangan dilapangan. Sepanjang pengamatan,
banyak siswa memilih ekskul karena tidak ada pilihan lain. Ekskul yang sudah
ditetapkan sekolah, hanya beberapa saja yang megambil karena sesuai minat dan
bakatnya. Banyak diantara siswa yang diwawancarai saat kegiatan ekskul yang
tidak sesuai dengan minat dan bakatnya karena ikut-ikutan dan tak tahu ekskul
yang terbaik bagi mereka.
Dampaknya dalam kompetisi tidaklah begitu maksimal
hal ini dapat terlihat dari banyaknya siswa yang diutus sedikit sekali yang
berprestasi. Permasalahan ini selanjutnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dalam pengembangan sekolah bersama guru dan kepala sekolah serta psikolog
sekolah. Kepala ekolah memfasilitasi hal ini dengan cara mengumpulkan beberapa
penanggung jawab ekskul yang ada dan menghadirkan psikolog sekolah sebagai ahli dalam assessment bakat dan minat
siswa. Pengambilan keputusan dalam hal ini lebih melibatkan proses BAGJA.
Proses pengambilan keputusan dalam program ekskul yang berpihak pada murid
haruslah menggali hal-hal positif terhadap asset yang dimiliki oleh sekolah.
Setelah melakukan assesmen dengam
melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan bagi siswa merupakan jalur
membangun komunikasi agar tercapainya tujuan mengembangkan ekskul yang sesuai
dengan minat dan bakat peerta didik. Dari data yang didapatkan 60% dari jumlah siswa siswa sudah memiliki klub tempat mereka untuk latihan. Sedangkan 40 %
lainnya belum memiliki klub untuk latihan. Selanjutnya dari data yang sudah
dikemukakan maka diputuskan untuk anak anak yang belum memiliki klub dilakukan
pengambilan keputusan dalam merencanakan progam ekskul untuk satu kedepan.
Adapun ekskul yang akan diptuskan adalah Sains, Matematika, Bahasa Inggris, Paskibraka, Bahasa Inggris, Karate, Futsal, Atletik, Renang dan Teknologi Informasi. Dalam menentukan ekskul dibuatlah flyer sekolah dalam PPDB.
Pelaksanaan Program Ekskul yang berpihak pada murid ini dilakukan pada awal tahun ajaran tentunya dengan protokol Covid yang ketat. Jika terjadi keterbatasan dalam pelaksanaannya maka akan dilakukan secara mandiri dengan pengawasan orang tua maupun dengan cara daring. Melihat kegiatan ekskul yang diadakan pada KOSN tahun 2021 yang lalu, sekitar bulan April 2021 beberapa cabang ekskul seperti Karate dan Renang memperoleh mendali emas dan perunggu. Ini merupakan kontribusi dari dampak ekskul yang merdeka belajar. Program ekskul yang melibatkan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan serta assessment yang dilakukan sekolah.
B.
Perasaan Selama Menjalankan Program
Kegiatan ini sudah berlangsung
selama sebulan lebih.. Saya merasa senang, karena sudah banyak siswa yang berbicara
langsung bahwasanya mereka sudah lama ingin ekskul yang sesuai dengan bakat dan
minat mereka. Orang tua sangat senang dengan keputusan ini dikarenakan terjadinya perubahan perilaku dan tanggung
jawab siswa yang biasanya selalu keinginanya berubah dalam beberapa latihan
ekskul. Murid merasa lebih merdeka terhadap potensi minat dan bakat yang mereka
miliki sehingga kesenangan ekskul yang mereka pilih menjadi berprestasi dan
juga berdampak baik ke sekolah. Rasa optimis juga bahwa dalam pelaksanaannya dapat
selalu mendapat dukungan dari berbagai pihak baik itu dari Guru, Orang Tua,
Kepala Sekolah, Komite dan Pengawas. Sehingga ekskul merdeka belajar ini bisa
dijadikan best practice untuk sekolah-sekolah lain di Kota Padang.
C.
Pembelajaran dari Pelaksanaan Program
Adapun pembelajaran yang didapatkan
dalam pelaksanaan aksi nyata adalah menjalankan aksinyata dengan penuh optimis.
Memperhatikan kemampuan masing-masing murid dalam menentukan program ekskul,
mengkomunikasikan kepada semua pihak
dalam pengambilan keputusan. Selain itu program ekskul yang dilakukan
kedepan dengan memperhatikan perkembangan teknologi yang ada. Sekolah juga akan
membuat tempat untuk coaching bagi siswa dalam mengatasi permasalahan dalam
pelaksanaan program ekskul sehingga siswa akan mampu mengatasi permasalahan
secara mandiri. Setiap menjalankan program sangat dibutuhkan komitmen dalam
pelaksanaan dilapangan dan membangun komunikasi yang positif bersama pemangku
kepentingan.
D.
Rencana Perbaikan
Sedangkan rencana perbaikan dimasa
depan adalah akan melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah
dilakukan. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkesinambungan dalam
pelaksanaannya dilapangan. Monitoring dan evaluasi dapat mengukur program.
Selain itu, dalam penerapan ekskul ini tentu membutuhkan waktu agar dapat
terlihat dampaknya secara signifikan.
Senin, 17 Mei 2021
Asset Based Community Development atau Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan
suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann,
di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University.
ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki
oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari
lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan
(Kretzman, 2010). 12 Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA)
muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang
menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu
komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai
penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi
tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai,
prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih
pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki
oleh komunitas.
Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas
untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan
dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang
penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang
produktif. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset menekankan kepada
kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang
dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri
mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset berfokus pada potensi
aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini komunitas
sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.
Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan
oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam
buku ‘Participant Manual of Mobilizing
Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan
perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar. Penjelasan yang
ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita
implementasikan pada lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur
sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.
Pada kegiatan ini seorang CGP diminta untuk memaparkan
cara memanfaatkan pengelolaan sumber daya dengan proses belajar murid. Lingkungan
sekolah saya memiliki lahan yang luas, memiliki guru yang masih muda dan
memiliki ruang serbaguna yang bisa menampung 300 orang dalam kegiatan yang
berskala besar. Pada kegitan teori Penjasorkes, saya mengajak anak-anak dengan
sebuah pembelajaran diluaar kelas. Saya bisa melakukan pembelajaran dibawah
pohon yang rindang. Membentuk kelompok-kelompok kecil dalam diskusi luar kelas
nantinya. Untuk kegiatan praktik olahraga, saya menggunakan lapangan olahraga
yang teduh dan juga memiliki saran yang memadai. Saya bisa membuat pembelajaran Game Team
Tournament, Pembelajaran dalam kelompok kecil lainnya. Anak-anak saya minta
untuk mengeksplorasi materi yang sudah dipahami terlebih dahulu, agar siswa
dapat mengambil nilai-nilai positif dalam kegiatan pembelajaran yang lebih
bermakna. Lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat saya tidak
terlalu khawatir terhadap keamanan siswa dalam melaksanakan kegiatan.
Sekolah saya juga mempunyai proyektor dan juga
masing-masing kelas memiliki laptop. Laptop ini selain milik sekolah guru-guru
juga memilikinya. Presentasi kelompok juga banyak dilakukan siswa dalam
kegiatan ini. Selain itu saya juga memiiki e-learning pribadi yaitu www.e-penjas.online . Memang ada
perubahan siswa saat belajar mengguakan media elektronik dan tidak. Pada saat
menggunakan media elektronik siswa menjadi fokus dan setelah kegiatan tersebut
terlihat siswa menggunakan elearning dalam pembelajaran mandiri di kelas.
Pelaksanaan pembelajaran di sekolah saya menggunakan
pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan ini dapat terlihat dari kegiatan di
e-learning saat pembelajaran dikelas dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan
kelas ini dibuat oleh siswa dan dibimbing oleh guru. Dengan membuat kesepakatan
kelas siswa memang terlihat tenang dan mematuhi aturan yang sudah mereka buat.
Guru juga tidak lagi memaksakan siswa untuk harus bisa dengan materi yang ada
di sekolah, disini guru paham bahwa siswa memiliki kelebihan sesuai kodrat alam
mereka. Tugas guru disini adalah menemukan kelebihan mereka tersebut sehingga
apabila mereka paham dengan kelebihan yang mereka punya mereka bisa melatih dan
mengembangkan potensi yang mereka miliki tersebut.
Pada saat sebelum mengikuti guru penggerak saya sudah
terbiasa membawa siswa ke lingkungan sekolah. Kami memang banyak melakukan
praktik-praktik kecil sederhana di luar kelas. Saya juga sering menggunakan
proyektor dalam proses pembelajaran. Namun saya masih memberikan tugas yang
sama kepada seluruh siswa. Setelah mengikuti PGP angkatan 1 ini saya lebih
memahami kelebihan yang dimiliki siswa. Dalam pemberian tugas pun saya
memberikan pilihan kepada siswa boleh lewat tulisa, suara atau dalam bentuk
gambar. Siswa juga terlihat lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas yang saya
berikan tersebut. Saya juga mulai membuat kesepakatan kelas bersama siswa. Saya
melihat ide-ide cemerang yang dikemukakan oleh siswa.
Jumat, 07 Mei 2021
Dokumentasi Tragedi Susur Sungai
Pendapat saya
dalam kasus ini adalah terjadinya suatu kejadian yang berakibat fatal
dikarenakan tidak dilakukan sesuai prinsip manajeman resiko.
Dalam Modul 3.3 Guru Penggerak tentang Program Berdampak Pada Murid. Saya
mengutip, "Dalam Prinsip Dasar Manajemen risiko (2019:3) Manajemen risiko
adalah metode yang
tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks,
identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko."
Dengan
prinsip inilah harus dilakukan agar resiko kemungkinan terbesar dapat
ditetapkan, diidentifikasi,evaluasi dan dapat dikendalikan.
Analisi manajeman yang saya lakukan dalam
kasus ini adalah:
1. Identifikasi
resiko, adalah pelaksanaan identifikasi risiko dilakukan dengan
menganalisis dan memantau faktor-faktor internal dan eksternal.
Yang
saya lakukan adalah saya akan libatkan tim yang profesional dalam kegiatan
susur sungai. Seperti Guru, Mahasiswa Pecinta Alam atau penduduk setempat yang
mengetahui medan kegiatan. Tim ini akan turun langsung kelapangan untuk
mengidentifikasi jenis resiko yang akan ditemui bersama panitia baik internal
maupun eksternal.
2. Pengukuran
resiko adalah usaha untuk mengetahui
besar atau kecilnya risiko yang akan terjadi.
Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya
risiko yang dihadapi lembaga pendidikan,
kemudian bisa melihat dampak dari risiko
terhadap kinerja sekaligus bisa melakukan
prioritisasi risiko, risiko yang mana yang
paling relevan. Pengukuran risiko dilakukan setelah
pengidentifikasian risiko. Hal ini dilakukan untuk menentukan relatif pentingnya
risiko, untuk memperoleh informasi yang akan menolong
untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya.
Dalam
kasus ini, ketika melakukan pengukuran risiko pasti akan melihat dampak dari terjadinya
risiko, baik risiko tersebut akibat kelalaian manusia
maupun risiko tersebut akibat bencana alam atau
faktorfaktor lainnya yang menyebabkan timbulnya risiko.
3.
Strategi Pengendalian resiko, Proses strategi pengendalian risikonya dilakukan
dengan menerapkan dan melaksanakan program-program yang dilaksanakan. Dari program-program
tersebut dapat dimaksudkan agar dapat menghindari risiko (risk
advoidnace), mengurangi risiko (risk management), memindahkan
risiko (risk transfer), penahanan risiko (risk retention). Kita dapat melihat
Implikasinya dalam tipe resiko berikut Resiko Strategis, Resiko Keuangan,
Resiko Operasional, Resiko Pemenuhan dan resiko reputasi.
Dalam kasus ini saya lakukan adalah kalau
setelah diidentifikasi dan diukur maka kita dapat menetapkan resiko tersebut.
Apkah menghindari? Apakah Mengurangi? atau Memindahkan resiko? atau yang
lainnya. sehingga resiko dapat kita minimalisir.
4.Melakukan
Evaluasi yang berkelanjutan, setelah melakukan kegiatan maka
seluruh peserta, Guru, dan tim lapangan akan dilakukan evaluasi yang
berkelanjutan agar semua pihak memahami dari resiko setiap kegiatan sehingga
akan terjadi penanaman cara berfikir yang mengedepankan keselamatan dan
menjadikan kegiatan yang lebih baik
Apa saja jenis resiko?
Adapun jenis-jenis risiko
dikemukakan oleh Pramana (2011, hlm. 14). Berikut ini uraiannya:
a. Risiko berdasarkan sifat,
berdasarkan sifatnya, risiko dibagi kedalam dua jenis, yaitu:
1) Risiko Spekulatif
(Speculative Risk), ini adalah risiko yang memang sengaja diadakan agar di lain
pihak dapat diharapkan hal-hal yang menguntungkan.
2) Risiko Murni (Pure Risk). Ini
adalah yang tidak di sengaja, yang jika terjadi dapat menimbulkan kerugian
secara tiba- tiba.
b. Risiko berdasarkan
kemungkinannya untuk dialihkan
1) Risiko yang dapat dialihkan,
ini adalah risiko yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai obyek yang terkena
risiko kepada lembaga
2) Risiko yang tidak dapat
dialihkan, ini adalah semua risiko yang termasuk dalam risiko spekulatif
(keuntungan) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan pada lembaga
c. Risiko berdasarkan
kemunculannya
1) Risiko internal yaitu risiko
yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Misalnya risiko kerusakan
peralatan kerja pada proyek karena kesalahan operasi, risiko kecelakaan kerja,
dan lain sebagainya.
2) Risiko eksternal yaitu risiko
yang berasal dari luar perusahaan, misalnya risiko pencurian, penipuan,
perubahan kebijakan dan lain sebagainya.
Sopuntan, (2014, hlm. 230) yang
mengatakan bahwa menurut sumber/penyebab timbulnya, risiko dapat dibedakan ke
dalam :
a. Risiko intern, yaitu risiko
yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, seperti: kerusakan aktiva karena
ulah karyawannya sendiri, kecelakaan kerja, miss manajemen dan sebagainya.
b. Risiko eksternal, yaitu risiko
yang berasal luar perusahaan, seperti risiko pencurian, penipuan, persaingan,
fluktuasi harga, perubahan policy pemerintah dan sebagainya.
Minggu, 25 April 2021
Kali ini Saya akan membahas 7
aseet yang dimiliki oleh sekolah. Tulisan ini merupakan tugas Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 Kota Padang. Setiap sekolah tentu memiliki asset yang
berbeda. Sekolah yang berada dekat pantai tentu berbeda dengan asset sekolah
yang berada diperbukitan. Meskipun seperti itu, sudah seharusnya asset yang dimiliki dengan kelebihannya jangan kekurangannya. Karena dengan modal asset yang dimiliki
tentu akan menjadi peluang untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih baik.
Apa saja ketujuh asset
tersebut?
1.
MODAL MANUSIA
Modal manusia yang dimiliki oleh SD Plus Lillah adalah semua Guru yang mengajar dan Tenaga Kependidikan di SD Plus Lillah sudah menempuh jenjang S1. Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan masih dalam usia produktif. Hal ini terlihat dari Guru di sekolah kami masih usia muda termasuk Kepala Sekolahnya. Secara keseluruhan Guru di SD Plus Lillah sudah sangat mahir menggunakan IT. Hal ini juga terlihat dari terlihatnya Guru menggunakan IT dalam pembelajaran di kelas. Semua Guru berpeluang untuk berkolaborasi dalam kesehariannya ataupun saat pembelajaran diluar kelas.
Kepala Sekolah di SD Plus Lillah adalah Bapak Mulhendri, S. Pd. Beliau adalah Kepala Sekolah termuda di Kecamatan Koto Tangah. Selain Kepala Sekolah beliau juga menjabat sebagai Anggota K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah). Selanjutnya, Beliau juga berprestasi yakni Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kota Padang. Selain itu sekolah juga memiliki Psikolog Sekolah yang sangat professional dibidangnya.
Siswa yang bersekolah di SD Plus Lillah merupakan siswa yang hebat. Hal ini terlihat dari siswa yang memiliki prestasi, bakat dan kemampuan masing-masing. Siswa Saya adalah anak yang sopan dan berbahasa dan berkarakter baik disekolah. Hal ini dikarenakan konsep sekolah swasta yang islami. Selain itu, Orang Tua di sekolah tempat Saya mengajar banyak yang membantu dan berkontribusi dalam kegiatan yang dilakukan. Seperti acara Market Day, Perpisahan dan Khatam Al-qur’an serta di kegiatan lainya.
2. MODAL SOSIAL
Selanjutnya MoU dengan pihak
swasta ataupun dengan pihak non formals seperti: MoU dengan Rumah Zakat, MoU
dengan Dompet Duafa Singgalang serta Mou dengan
berbagai pihak pelaku usaha dan umkm. Bentuk kerjasama ini dilakukan terutama
dalam bidang pendidikan. Secara keseluruhan kerjasama ini terjadi karena dukungan semua pihak baik Pimpinan, Guru dan Orang Tua.
3. MODAL FISIK
Modal ini juga sangat baik dimiliki SD Plus Lillah. Hal ini dapat dilihat dari bangunan sekolah yang berlantai 2 dengan bangunan memiliki ciri khas Rumah Gadang. Bangunan Sekolah SD Plus Lillah adalah miliki pribadi dengan kata lain tidak menyewa sehingga pengembangan berkelanjutan dapat dilakukan. Fasilitas setiap kelas berupa AC dan kelengkapan belajar sesuai standar sarana dan prasaarana sekolah. Sekolah juga memiliki 5 unit perangat computer yang sudah terhubung dengan jaringan internet 4G dapat digunakan di kelas. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan PBM dengan penggunaan IT sangat maksimal dapat dilakukan. Ruang serbaguna, lapangan futsal, lapangan upacara dan kolam renang juga ada di SD Plus Lillah. Semua fasilitas ini diguanakan untuk kegiatan PBM. Selain itu pekarangan sekolah sangat luas sehingga tempat bermain sangat luas pada sekolah ini.
4. MODAL LINGKUNGAN/ALAM
SD Plus Lillah terletak sangat strategis di Kota Padang. Mudah diakses dari jalan raya Adinegoro. Berjarak dari Stasiun Tabing kira-kira 500 meter. Sebelah barat SD Plus Lillah langsung terhampar Pantai Pasir Putih. Pantai ini sering digunakan oleh SD Plus Lillah dalam pembelajaran kontekstual dan experiental learning. Sebelah timur SD Plus Lillah adalah daerah perbukitan Lubuk Minturun. Wilayah perbukitan ini juga sering digunakan SD Plus Lillah dalam kegiatan alam dan kegiatan outdoor. Seperti kegiatan Kepramukaan dan Kegiatan Kontekstual. Secara keseluruhan lingkunagan alam sangat mendukung dalam proses pendidikan.
5.
MODAL FINANSIAL
SD Plus Lillah merupakan sekolah swasta yang berada di kota
Padang. Modal finansial sekolah ini dalam pendidikan berasal dari SPP dan
Pembangunan. Honor Guru dan Tenaga Kependidikan dikelola secara baik oleh
pimpinan perguruan yang memiliki manajemen tersendiri. Sehingga Guru dan Tenaga
Kependidikan lebih berfokus dalam mengajar.
6.
MODAL POLITIK
SD Plus Lillah juga memiliki
modal politik. Hal ini dapat terlihat dari jabatan Kepala Sekolah dalam Kelompok
Kerja Kepala Sekolah. Sehingga sekolah juga benyak mendapat perhatian dari
pihak terkait. Selanjutnya Pemimpin Yayasan juga seorang dokter spesialis di
kota Padang, jadi sekolah kita selalu
dipantau dan diperhatikan dari pihak Puskesmas dalam bidang kesehatan.
7.
MODAL AGAMA/ BUDAYA
SD Plus Lillah terdiri dari
siswa bergama islam. Hal ini terjadi karena SD Plus Lillah merupakan sekolah umum
yang berkonsep islami. Sehingg secara kegiatan pembelajaran dan kebijakan kita
berlandaskan Al-quran dan Hadist. Sehingga modal agama dan kebudayaan ini kita
dapat menciptakan karakter baik dan sopan dari setiap siswa agar berakhlak
mulia.
Sabtu, 17 April 2021
Kamu pasti sering melihat orang-orang yang berpidato dengan lancar
dan baik di hadapan ratusan atau bahkan riburan orang. Nah, pada dasarnya,
orang tersebut memanfaatkan kemampuan public speaking supaya
percaya diri dan dapat menyampaikan informasi yang jelas kepada semua orang di
depannya. Secara umum, kemampuan ini memegang peranan penting untuk membawa
seseorang terlihat lebih profesional.
Sering kali, beberapa orang merasakan ketakutan yang besar saat
diminta tampil di hadapan banyak orang. Padahal, rasa ketakutan tersebut dapat
diatasi dengan baik jikalau kamu mampu menguasai kemampuan public
speaking. Oleh karena itu, kemampuan ini bisa dibilang menjadi salah satu senjata
utama.
Oppss, Ada audiens yang perlu kita perhatikan!
Tidak semua audiens kita mendengarkan dengan baik saat kita
berbicara, ada juga yang penuh simpati atau ada juga yang sibuk dengan
handphonenya saat kita berbicara. Kali ini Teacher Andre akan bahas mengenai
tipe audiens, yang bisa dapat kita lihat dan kenali:
a. Hostile
Yap, … Benar dari kata
dasarnya hostile berarti musuh. Nah, kok saat kita berbicara ada musuh sih!
Bingung ya!.
Hostile adalah tipe
audiens yang difensif terhadap perkataan dan topik yang kita bicarakan.
Biasanya, tipe audiens ini dapat dikenali dengan melipat kedua lengannya
didepan dada, mata yang tdiak fokus ke kita ataupun sering terjadi mereka
melihat kekurangan kita saat tampil. Makanya persiapkan segala hal dengan maksimal sebelum tampil dan jangan mau tampil asal-asalan karena akan langsung hubungan ke kredibilitas kamu lho! Parah ya! Tapi kita tidak boleh berfikiran negatif. Seorang Publik Speaking selalu open mind dan positif thingking.
B. Critical
Tapi tenang kamu tidak
perlu takut menyikapi tipe audiens seperti ini dan kamu bisa melakukan tips berikut
ini: Tunjukkan bukti beserta data yang valid, lakukan banyak sudut pandang
agar mereka menjadi tertarik dan jangan melebih-lebihkan.
Ingat ya, tidak usah
mengarang atau berbohong pada tipe audiens seperti ini. Kalau tidak tahu
sebaiknya kamu “Ngeles Jawaban”, seperti ini:…..Baiklah Pak, kalau nanti Bapak ada
waktu nanti saya akan lihatkan datanya……”
Maskipun kamu tidak
mengetahui jawabannya pada saat itu, paling tidak kamu ada untuk memberikan jawaban yang
benar sesuai data yang valid.
C. Uninformed
Uninformed atau belum
dapat informasi adalah tipe audiens yang belum meiliki pengetahuan sama sekali
dan biasanya saat kita menyampaikan sesuatu hal pada presentasi atau seminar
biasanya audiens ini menganggap yang kita sampaikan adalah benar. Ini sering kita lihat pada saat seorang
yang ahli ataupun Mentri saat tampil diatas panggung. Apalagi ahli/menteri tersebut sudah memiliki
jam terbang tinggi.
Tips yang dapat kamu
terapkan saat menghadapi audiens uninformed agar efektif adalah: Gunakan bahasa
sederhana, beri informasi dasar dan gunakan penglaman sehari-hari.
D. Sympathetic
Nah, itulah tadi beberapa hal yang Teacher Andre bahas mengenai tipe audiens dalam public speaking. So, jangan hanya sekedar pengetahuan ya! Ayo praktekkan saat berbicara. Salam Literasi Digital!
Kamis, 15 April 2021
Pada modul 3 pada Program Guru Penggerak ini, kami sebagai Calon Guru
Penggerak (CGP) belajar modul kepemimpinan. Modul ini mempelajari bagaimana
cara kami nanti mengambil sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin. Pada modul
ini kami sebagai CGP diminta untuk membuat koneksi antar materi dari semua
materi yang sudah di pelajari sampai
saat ini.
Pada modul 1.1 kami belajar tentang Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD), dimana
pada modul ini kita mengenal Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulada ( di depan menjadi teladan), Ing
Madya Mangun Karsa (ditengah memberikan motivasi), Tut Wuri handayani (di
belakang memberikan dukungan). Hubungan dengan pengambilan keputusan adalah
dimana seorang pemimpin harus benar-benar mengambil keputusan dengan baik.
Seorang guru yang melihat siswanya bersalah tidak serta merta langsung
memberikan hukuman. Sebaiknya guru melakukan tanya jawab terlebih dahulu
kemudian guru memberikan hukuman yang mendidik dan tidak merugikan siswa dalam belajar.
Hari ini masih banyak kita melihat guru memberikan hukuman yang merugikan
siswa, karena di hukum siswa tidak jadi belajar. Sehingga siswa tidak
mendapatkan haknya di sekolah. Seorang guru yang bijak hendaknya memberikan
hukuman yang tidak mengurangi hak siswa tersebut. Misalnya hukumanya piket
kelas sepulang sekolah, dengan artian siswa tetap ikut belajar dengan temannya,
namun dia hanya akan telat pulang saja ke rumah karena harus piket terlebih
dahulu.
Setelah belajar modul 3.1 tentang
pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, nilai-nilai yang dipelajari
tersebut menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan. CGP tidak serta
merta memberikan keputusan langsung, tetapi CGP menimbang terlebih dahulu dari
segi paradigma yang dilewati atau berdasarkan keputusan apa jalan keluar yang
mau diambil oleh CGP. CGP juga harus memikirkan dahulu dengan tahap uji klinis
yang ada pada 9 langkah pengambilan keputusan. Saya merasakan adanya sensasi
yang berbeda saat pengambilan keputusan setelah mengenal etika, paradigma serta
9 langkah pengambilan keputusan ini. saya merasa keputusan yang diambil lebih
baik dan saya juga merasa adil terhadap keputusan tersebut.
Modul 2 Pendidikan Guru Penggerak, pada
sub 2.3 CGP diberikan materi tentang coaching. Coaching ini berbeda dengan
mentoring dan konsul. Pada coaching memang coachee yang mencari jalan keluar
dari masalah yang mereka hadapi ini. coach hanya sebagai orang yang membimbing
coachee untuk mencari jalan keluarnya. Pada kegiatan coaching yang CGP lakukan kepada
peserta didik di sekolah, coachee sudah bisa menentukan jalan keluar sendiri
terhadap masalah mereka. Sudah lebih dari separo siswa di kelas yang di
coaching dan hasilnya sangat luar biasa. Coach yang sebagai guru kelas banyak
merombak cara belajar agar sesuai dengan keinginan siswa. CGP disini belajar
bagaimana menerima kekurangan dan menjadi guru yang lebih baik ke depan.
Setelah kegiatan coaching hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih dekat.
Dampaknya materi yang diberikan guru lebih cepat sampai ke pada siswa. Siswa
yang memiliki kesalahan selama di sekolah pun lebih senang dengan sanksi yang
diberikan oleh guru. Tak ada lagi wajah kesal atau sakit hati kepada guru
apabila diberikan sanksi karena sanksi tersebut dibuat sesuai kesepakatan bersama
dan tidak mengganggu hak siswa di sekolah.
CGP juga selalu memberikan motivasi
kepada siswa. Guru selalu bertanya tentang kegiatan sholat wajib dan apakah
mereka sering datang ke gereka setiap minggu. CGP selalu bertanya kegiatan
tersebut di awal kegiatan kepada siswa. Memang perubahannya belum nampak, tapi
sudah ada perubahan siswa yang mengangkat tangan ketika guru bertanya dan
jumlahnya selalu bertambah. Siswa juga lebih paham dengan sampah yang
berserakan di kelas. CGP sellau melaksanakan “Operasi Semut” setiap pulang
sekolah. CGP meminta siswz untuk memungut sampah yang berserakan dan dimasukkan
ke dalam tong sampah. Setelah berjalan kurang lebih 3 minggu kegiatan tersebut,
sekarang siswa sudah terbiasa memungut sampah yang berserakan di dalam kelas.
Siswa mengambil sendiri sampah tersebut tanpa adanya komando dari CGP.
Pada kegiatan pengambilan keputusan yang
dilakukan CGP selama ini belum terlihat ada kendala atau hambatan. Sampai saat
ini keputusan yang diambil oleh CGP masih dalam masa aman dan belum ada pro
kontra dari sekolah atau masyarakat. CGP selalu melakukan kolaborasi dengan
teman sejawat serta wali murid sehingga keputusan yang diambil tepat sasaran.
CGP melihat adanya wajah-wajah senang
dari murid ketika datang ke sekolah, kemudian saat ini sekolah yang dipegang
CGP masih dalam tahap shif, jadi separo sekolah tatap muka dan separo lagi
daring di rumah. Banyaknya chat wa dari murid yang rindu akan sekolah membuat
CGP merasa senang. Siswa sangat senang apabila mereka tatap muka dan bertemu dengan
CGP di sekolah. Rindu sekolah adalah kata-kata yang sering mereka ungkapkan
sehingga CGP merasa senang dan bahagia dengan hal tersebut. CGP merasakan
sekali perubahan CGP dalam memberikan materi yang banyak menggunakan media yang
bisa di otak-atik oleh siswa. Hal ini lah yang CGP lihat membuat siswa ingin
datang ke sekolah.
CGP juga sering melakukan
kegiatan-kegiatan praktek bersama siswa. Misalnya menari secara kelompok dan
menyanyikan lagu wajib yang ada pada buku tema. Dari sini CGP jadi tau ternyata
ada siswa yang punya bakat menari dan menyanyi. Dari gerakan tari dan ekspresi
yang mereka tampilkan CGP jadi paham mereka punya bakat menari. CGP memberikan
penguatan kepada siswa tersebut agar selalu mengembangkan bakat yang mereka
punya. CGP menyalurkan bakat menari mereka karena di sekolah CGP kedatangan
mahasiswa yang kebetulan ingin mengajarkan beberapa orang siswa untuk menari.
Melihat ekspresi mereka mengatakan iya, bahwa mereka mau, CGP menjadi senang
karena apa yang mereka inginkan akhirnya tercapai. CGP juga berpesan apabila
mereka tekun melakukan bakat mereka dengan baik maka nanti mereka bisa sukses
di masa yang akan datang.
Pada modul 1 CGP diajarkan untuk
mengubah pola pikir yang selama ini menghantui pikiran CGP. CGP diajarkan
bagaimana memandang siswa, bagaimana memperlakukan siswa dengan baik sesuai
dengan kodrat mereka. Pada modul 2 CGP diajarkan apa betul yang merdeka belajar
itu. Mulai dari pembelajaran berdiferensiasi, kompetensi sosial emosional dan
coaching. Penerapan modul 2 ini pada pembelajaran memang menciptakan sebuah
merdeka belajar. CGP melihat adanya perubahan dari diri CGP dan siswa yang
memang senang untuk belajar. Modul 3 menjadi tambahan CGP dalam mengambil
keputusan di sekolah. Tidak dipungkiri pasti ada saja hal yang membuat kita
harus mengambil sebuah keputusan yang hasilnya baik untk kedua belah pihak. CGP
disini belajar dan menerapkan cara pengambilan keputusan tersebut. Ada perasaan
lega bagi CGP ketika menerapkan semua materi tersebut dengan baik karena memang
materi pada Pendidikan Guru Penggerak memang saling berkaitan satu sama lain.
Penerapan modul ini kepada siswa di sekolah memang menciptakan merdeka belajar
yang diinginkan oleh Mentri Pendidikan.
Senin, 05 April 2021
Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
jawab:
Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari
yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan,
persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika
yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Secara lebih rinci, berikut adalah penjelasan dari keempat paradigma tersebut:
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapatberarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar.Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebihbesar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi jugabisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.
Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuatpengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan)
Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua.Anda membuat pengecualian?
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.
Tiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihanpilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder,2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3. kumpulkan fakta relevan dalam situasi
4. Pengujian benar atau salah: (Uji Legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji panutan/idola)
5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
6. melakukan prinsip resolusi
7. investigasi opsi trilema
8. buat keputusan
9. lihat keputusan dan refleksikan.
Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
jawab:
Mempelajari modul ini sangat menguntungkan bagi saya sebagai individu dan sebagai Calon Guru Penggerak. Hal ini dapat terlihat dari materi yang baru saya pelajari dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan di sekolah maupun sebagai pemimpin pelajaran tidaklah semudah melakukan balikan telapak tangan. Guru harus mempertimbangkan dan mampu membedakan antara dilema etika atau bujukan moral.
setelah mempelajari ini daya akan mengambil keputusan dengan menggunakan 4 paradigma, menggunakan 3 prinsip dan menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan dalam pengambilan keputusan nantinya.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
Mempelajari materi ini sangatlah penting sebagai guru dan pemimpin pembelajaran. hal ini dapat dikaitkan dengan dilema yang terjadi dalam dunia pendidikan yang seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai individu, materi ini dapat saya gunakan dalam kelas saat mengajar murid atau permasalahan yang dialami siswa atau rekan kerja.
Sebagai pemimpin pembelajaran, topik modul ini sangat membantu saya dalam menghadapi dilema etika dalam lembaga. Keputusan yang dibuat nantinya tidak merugikan kedua belah pihak dan mengetahu mana dilema etika maupun bujukan moral.
Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
Dalam kasus yang saya temui nantinya disekolah maupun dikelas adalah saya akan menggunakan konsep dan materi ini dalam pengambilan keputusan. keputusan yang diambil nantinya melibatkan teknik pengambiln keputusan yang ada pada modul 3.1 ini. menggunakan langkah-langkah pengambilan keputusan serta menguji keputusan tersebut.
















%20(1).png)
